
Kecuali Busway 
Hati-hati Lintasan Busway 
Loper Koran 
Usaha Membebaskan Kita Belum Dewasa Berlalu-lintas Rekan-rekan, pagi tadi (9-1-2007) saya menyaksikan dua peristiwa yang tidak mengenakkan. Pertama, seperti bisa dilihat pada foto, sebuah truk tersangkut di separator busway. Kedua sebuah motor ditabrak metro mini yang, maaf karena saya tidak sampai hati untuk mengambil gambarnya, jadi tidak ada fotonya di sini. Kejadian pertama dikarenakan oleh truk yang menurut supirnya hendak menghindari sepeda motor. Tidak ada korban luka pada kecelakaan yang terjadi di Kramat Raya menjelang perempatan Senen ini. Tetapi dari posisi truk yang tersangkut, jelas bahwa truk dan sepeda motor tersebut memasuki jalur busway. Menurut para loper koran di sekitar tempat kejadian, memang sering terjadi kecelakaan di lokasi tersebut. Menurut mereka, penerangan jalan di sana memang tak pernah menyala dengan baik, sehingga sering terjadi kecelakaan di malam atau dini hari. Selain penerangan yang kurang, lubang di dekat tempat kejadian juga sering memakan korban. Pemerintah kota kita sepertinya sudah terlalu banyak pekerjaan hingga banyak hal kecil seperti lubang atau penerangan jalan yang terlewatkan. Ditambah lagi dengan masih belum dewasanya kita dalam berlalu lintas (kalau tidak mau dibilang tidak tertib!) Di jalan Bungur Raya, saya menyaksikan kecelakaan kedua, yang jika dilihat dari posisi kedua kendaraan dan para korban sepertinya baru saja terjadi. Kaca depan metro mini pecah berantakan, sementara sepeda motor tampak ringsek di bawahnya. Dari beberapa saksi mata, diceritakan bahwa kedua kendaraan tersebut memang melaju kencang, sedangkan dari perilaku pengendara motor dicurigai mereka sedang dalam keadaan mabuk. Kedua korban sudah dipinggirkan, sementara pengendara motor semakin banyak yang ikut berhenti dan berteriak-teriak dengan sangar menuntut pertanggung jawaban supir metro mini. Korban pertama tampak sudah tidak bernafas, sedangkan yang satunya dengan helm pecah di kepala masih tampak tersenggal-senggal. Tidak terlalu banyak darah, menandakan daerah kepala sepertinya tidak pecah (tidak tahu isinya.) Sementara, melihat darah yang keluar dari hidung tidak bercampur dengan cairan otak, saya cukup bernafas lega. Dengan kerumunan orang yang bertambah dan tampak makin beringas, saya hanya bisa menganjurkan agar korban segera dibawa ke rumah sakit lalu melanjutkan perjalanan. Kedua peristiwa ini membuat saya berpikir tentang pilihan bekerja dengan mengayuh sepeda. Sungguh rentan, posisi kita di tengah rimba raya lalu lintas Jakarta (pinjam istilah om Edwin lagi.) Kecelakaan bisa terjadi dimana saja, kapan saja dan pada siapa saja, termasuk kita pengendara sepeda. Untung di dalam komunitas ini banyak orang yang selalu mengingatkan untuk selalu tertib dan menjaga keamanan serta keselamatan dalam bersepeda. Sempat juga terlintas dipikiran, buat apa tertib jika pengendara lain terutama pengendara motor tidak bisa tertib. Bukankah kita sering melihat bagaimana pengendara motor semakin brutal dalam berkendara? Belum lagi jika membaca milis, cukup banyak yang mengeluhkan perilaku mereka, bahkan menjadi korban kecelakaan karena ketidak tertiban mereka. Tetapi ini pikiran emosional. Saat kepala disirami air dingin, saya jadi membayangkan bagaimana jadinya jika kampanye B2W sukses. Lalu lintas Jakarta diisi dengan sepeda-sepeda yang sibuk berseliweran di jalur-jalur khusus sepeda, beberapa busway melaju lancar mengangkut penumpang dan sepedanya, udara bersih bebas asap, dan suara bising pun jauh berkurang. Sebuah surga bagi pengendara sepeda. Tetapi ada satu hal yang mengganggu, kemana perginya para pengendara motor? Jika ditelusuri, bukankah mereka beralih dari sepeda bertenaga motor ke sepeda bertenaga dengkul? Dengan pengendara yang sama, bagaimana perilaku berlalu lintas mereka? Wah, bayangan Jakarta yang bersih dan tertib jadi terganggu dengan semrawutnya lalu lintas dengan jutaan sepeda berebut jalan (padahal sudah ada jalur khususnya.) Hehehe... Ternyata pekerjaan kita masih banyak ya. Bukan saja mengkampanyekan ‘mengendara sepeda,’ kita juga harus melengkapi jadi ‘mengendara sepeda dengan tertib dan aman.’
|