Surat untuk Sahabat - Mengenang Tragedi Mei'98


Blog For Free!


Archives
Home
2007 May
2007 April
2007 March
2007 February
2007 January
2006 December
2006 November
2006 September
2006 July
2006 May

My Links
Another me
Untuk Inspirasi
Info Kesehatan Tidur
Bike to Work Indonesia - Komunitas Pekerja Bersepeda

tBlog
My Profile
Send tMail
My tFriends
My Images


Sponsored
Blog



Surat untuk Sahabat - Mengenang Tragedi Mei'98
05.14.06 (2:48 am)   [edit]

Delapan tahun yang lalu, sebuah tragedi kembali terjadi di Indonesia. Serangkaian tindak kekerasan muncul secara serentak dan sistematis. Banyak korban berjatuhan, dibakar, diperkosa, dibunuh, dianiaya, dihina dan dicap penjarah.

TGPF pada waktu itu sudah mengumpulkan data, dan telah juga merekomendasikan hasil penyelidikannya kepada pemerintah. Tapi apa yang terjadi… Satu persatu kekerasan kembali terjadi, hingga kita lelah membaca tajuk berita yang terus berisikan kekerasan.

Para korban kerusuhan mei’98 telah kembali menjadi abu dan tanah, yang lain bertranformasi menjadi ‘survivor’ dan tidak sedikit keluarga korban yang kini menjadi pembela hak asasi manusia. Mereka yang dulu didampingi, kini telah menjadi pendamping bagi yang lain.

Bagaimana dengan kita? Sebagai rakyat biasa, kita luput dari kisah-kisah heroik kebangkitan komunitas korban. Ketika sesekali mendengar keluarga korban bersuara menuntut keadilan, kita malah bertanya, “Korban tragedi yang mana?”

Tetapi sahabat, kitalah korban yang sesungguhnya. Sejak keruntuhan orde baru, kekerasan sipil terus terjadi. Tragedi demi tragedi yang menelan korban terus bermunculan. Dan setiap kali televisi menayangkan asap, api, jerit tangis serta kerumunan orang yang beringas merusak dan mengancam, sesuatu di dalam diri bergolak. Ketakutan dan kesedihan meliputi diri. Gemas dan geram mencekat di kerongkongan seperti empedu, dikeluarkan pahit, ditelan pedih. Sebuah luka yang tak pernah sembuh. Sebuah trauma yang tak pernah pupus. Pada akhirnya kita pun hanya dapat memalingkan wajah, dan mencoba memulihkan nurani yang telah menumpul.

Tampaknya kita harus belajar dari keluarga korban. Mencari kekuatan diantara serpihan kenangan akan yang tercinta, dan memandang jauh ke depan mencari keadilan. Bukan demi memuaskan dendam, tetapi untuk pembelajaran kita semua.

Suara dari lubuk hati membisikkan kebenaran yang hendak dilupakan penguasa. Padahal sejarah mengajarkan bahwa kebenaran adalah pil pahit yang harus kita telan untuk kesembuhan, sedangkan kebohongan hanyalah makanan enak yang nantinya menimbulkan berbagai penyakit.

Salam bagi semua sahabat, dan salut untuk Jaringan Solidaritas Keluarga Korban.

Dalam tunduk haru kita mengenang tragedi Mei’98.  Kita tak akan pernah lupa!

 

 


posted by: Saluira yuki (reply)
post date: 08.15.07 (7:41 pm)

Kejadian yang terjadi saat itu memang menimbulkan banyak luka, ketakutan, trauma yang sangat mendalam.
Tapi kita tetap harus manghadapinya dengan hati yang terbuka.

Siapa lagi yang bisa mengobati diri sendiri kalau buka dari kemauan diri kita..Biarlah semua itu jadi kenangan pahit dan pelajaran untukkita supaya dapat membangun negara kita menjadi lebih baik lagi...

yang pasti kita memang tidak akan pernah lupa akan tragedi itu...dan saudara - saudara setanah air kita yang menjadi korban...

Salam kasih untuk semua yang membaca dan peduli pada tanah air kita..



posted by: A.TAN (reply)
post date: 09.25.07 (10:47 pm)

Semoga kejadian serupa tidah akan pernah terulang lagi di Indonesia.
Tuhan memberkati Indonesia

Your Name:


Your Comment:


adopt your own virtual pet!