Delapan tahun yang lalu, sebuah tragedi kembali terjadi di Indonesia. Serangkaian tindak kekerasan muncul secara serentak dan sistematis. Banyak korban berjatuhan, dibakar, diperkosa, dibunuh, dianiaya, dihina dan dicap penjarah. TGPF pada waktu itu sudah mengumpulkan data, dan telah juga merekomendasikan hasil penyelidikannya kepada pemerintah. Tapi apa yang terjadi… Satu persatu kekerasan kembali terjadi, hingga kita lelah membaca tajuk berita yang terus berisikan kekerasan. Para korban kerusuhan mei’98 telah kembali menjadi abu dan tanah, yang lain bertranformasi menjadi ‘survivor’ dan tidak sedikit keluarga korban yang kini menjadi pembela hak asasi manusia. Mereka yang dulu didampingi, kini telah menjadi pendamping bagi yang lain. Bagaimana dengan kita? Sebagai rakyat biasa, kita luput dari kisah-kisah heroik kebangkitan komunitas korban. Ketika sesekali mendengar keluarga korban bersuara menuntut keadilan, kita malah bertanya, “Korban tragedi yang mana?” Tetapi sahabat, kitalah korban yang sesungguhnya. Sejak keruntuhan orde baru, kekerasan sipil terus terjadi. Tragedi demi tragedi yang menelan korban terus bermunculan. Dan setiap kali televisi menayangkan asap, api, jerit tangis serta kerumunan orang yang beringas merusak dan mengancam, sesuatu di dalam diri bergolak. Ketakutan dan kesedihan meliputi diri. Gemas dan geram mencekat di kerongkongan seperti empedu, dikeluarkan pahit, ditelan pedih. Sebuah luka yang tak pernah sembuh. Sebuah trauma yang tak pernah pupus. Pada akhirnya kita pun hanya dapat memalingkan wajah, dan mencoba memulihkan nurani yang telah menumpul. Tampaknya kita harus belajar dari keluarga korban. Mencari kekuatan diantara serpihan kenangan akan yang tercinta, dan memandang jauh ke depan mencari keadilan. Bukan demi memuaskan dendam, tetapi untuk pembelajaran kita semua. Suara dari lubuk hati membisikkan kebenaran yang hendak dilupakan penguasa. Padahal sejarah mengajarkan bahwa kebenaran adalah pil pahit yang harus kita telan untuk kesembuhan, sedangkan kebohongan hanyalah makanan enak yang nantinya menimbulkan berbagai penyakit. Salam bagi semua sahabat, dan salut untuk Jaringan Solidaritas Keluarga Korban. Dalam tunduk haru kita mengenang tragedi Mei’98. Kita tak akan pernah lupa!
|